Farid Zanzabil Alayubi, WNI Termuda di Gaza
Colorado Action – Farid Zanzabil Alayubi (22) adalah nama yang kini semakin dikenal, terutama di kalangan komunitas relawan kemanusiaan di Gaza, Palestina. Sebagai salah satu relawan MER-C Indonesia, Farid telah mengabdikan dirinya selama lebih dari lima tahun untuk membantu masyarakat Palestina yang terdampak konflik. Di tengah serangan Israel yang menghancurkan Gaza pada Oktober 2023, Farid tetap bertahan dan menjalankan misinya, bahkan ketika kampusnya di Universitas Islam Gaza hancur akibat serangan udara.
Farid yang lahir di Bogor pada 22 Juli 2001, adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Ayahnya, Muqorrobin, adalah sosok yang juga aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Bahkan, ayah Farid pernah menjadi relawan di Gaza selama 1,5 tahun saat pembangunan Rumah Sakit Indonesia fase kedua. Dari sinilah Farid mendapat inspirasi untuk melanjutkan jejak kebaikan ayahnya.
Pada tahun 2020, saat usianya baru menginjak 19 tahun, Farid memutuskan untuk melanjutkan studi di Gaza, Palestina. Berkat beasiswa dari Pesantren Al-Fattah Bogor, tempatnya belajar sejak kecil, Farid bisa menuntut ilmu di Universitas Islam Gaza. Ia memilih jurusan Usuluddin untuk mendalami lebih dalam tentang agama dan budaya Timur Tengah. Selama setahun pertama, ia menikmati kehidupannya sebagai mahasiswa di Gaza, berinteraksi dengan teman-temannya, dan beradaptasi dengan budaya setempat.
“Baca Juga: 3 Contoh Kegiatan Sosial yang Menginspirasi Relawan Komunitas“
Namun, pada Oktober 2023, serangan Israel mengguncang Gaza. Sekolah, kampus, dan fasilitas umum di kota tersebut hancur tak bersisa. Universitas Islam Gaza, tempat Farid menimba ilmu, juga menjadi sasaran bom. Hal ini membuat Farid harus menangguhkan studinya karena kondisi yang semakin tidak aman. “Sekarang semester delapan. Masih belum jelas kelanjutannya karena pendidikan di Gaza sudah runtuh,” ungkap Farid saat ditemui di Kantor MER-C Jakarta, beberapa waktu lalu. Bahkan, banyak fasilitas yang rusak, termasuk listrik yang sering padam, membuat belajar menjadi hampir tidak mungkin.
Meskipun begitu, Farid tetap menunjukkan semangatnya dalam menjalankan misi kemanusiaan. Dengan dukungan penuh dari orang tuanya, terutama ayahnya yang juga pernah menjadi relawan di Gaza, Farid merasa terpanggil untuk berkontribusi lebih. Selain tujuan utama untuk melanjutkan pendidikan, Farid juga ingin menjadi bagian dari misi panjang MER-C Indonesia. Organisasi ini memiliki komitmen untuk membantu masyarakat Gaza dalam jangka panjang, termasuk menyediakan fasilitas medis yang sangat dibutuhkan.
Peran MER-C dalam Misi Kemanusiaan di Gaza
MER-C, singkatan dari Medical Emergency Rescue Committee, adalah organisasi kemanusiaan Indonesia yang fokus pada bantuan medis dan kemanusiaan di wilayah konflik. Salah satu tujuan MER-C adalah memastikan fasilitas seperti Rumah Sakit Indonesia di Gaza terus beroperasi. Untuk itu, mereka mengirimkan relawan seperti Farid yang tidak hanya berdedikasi dalam bidang medis tetapi juga membantu dalam pengelolaan fasilitas tersebut.
Farid merasa bangga bisa menjadi bagian dari MER-C, karena organisasi ini tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga berkomitmen untuk memberikan bantuan jangka panjang yang bermanfaat bagi masyarakat Gaza. “MER-C punya misi panjang, mereka tidak mau fasilitas Indonesia di Gaza kosong,” kata Farid. Itulah sebabnya ia merasa terhormat bisa bergabung dengan tim MER-C untuk membantu warga Gaza yang membutuhkan.
Selain itu, Farid juga mengungkapkan bahwa motivasi dirinya untuk tinggal dan bekerja di Gaza didorong oleh doa dan restu orang tuanya. Orang tua Farid sangat mendukung keputusan anaknya, meskipun mereka sadar risiko yang dihadapi di daerah konflik seperti Gaza. Restu dan doa orang tua menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Farid untuk bertahan di tengah kondisi yang penuh tantangan tersebut.
“Simak Juga: Experience Onyx Club Bangkok: The Ultimate Nightclub Adventure“
Kembali ke Indonesia dan Rencana Masa Depan
Setelah berjuang di Gaza selama beberapa tahun, Farid akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Keputusan ini diambil demi alasan keamanan dan juga untuk menyelesaikan misi khusus yang berkaitan dengan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Farid mengatakan bahwa ia tetap berkomitmen untuk kembali ke Gaza suatu saat nanti, karena baginya misi kemanusiaan di sana masih jauh dari selesai.
“Saya akan kembali ke Gaza. Niat saya tetap untuk kemanusiaan,” ujar Farid dengan penuh keyakinan. Kendati situasi di Gaza sangat berbahaya, Farid merasa panggilan untuk membantu tidak bisa dihentikan. Ia juga menyebutkan bahwa kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia, seperti di Universitas Islam Negeri (UIN) Banten, sedang dipertimbangkan. “Kalau bisa melanjutkan studi di UIN Banten, Alhamdulillah,” tambahnya.
Kisah Inspiratif Farid Zanzabil Alayubi dalam Dunia Relawan Kemanusiaan
Kisah Farid Zanzabil Alayubi menunjukkan betapa besar komitmen seorang pemuda Indonesia terhadap misi kemanusiaan di tengah konflik. Sebagai relawan muda yang berjuang di Gaza, Farid menunjukkan keteguhan hati dalam menjalankan misi mulia untuk membantu sesama, meskipun harus menghadapi bahaya dan kehilangan yang besar. Keberanian dan dedikasinya menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda Indonesia, untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.
Bagi Farid, misi kemanusiaan di Gaza adalah bagian dari panggilan hidupnya. Dengan semangat yang tidak pernah padam, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik, meskipun keadaan di Gaza semakin sulit. Dalam dirinya, ada tekad yang kuat untuk terus mengabdi, baik melalui pendidikan maupun dalam memberikan bantuan langsung kepada mereka yang membutuhkan.
Sumber berita: Colorado Action (coloradoaction.org).